15 September 2016

Kunjungan Home Industri ke Celuk Silver Village, Bali

Bali, selalu senang hati bila mendapat tugas ke pulau satu ini. Pulau yang selalu sibuk dengan dinamisasi ritual masyarakatnya yang di dominasi agama Hindu, pulau yang selalu sibuk dengan agenda “art performance” di mana-mana, dan pulau yang selalu sibuk “bersolek” untuk menjaga keindahan alamnya untuk selalu menarik dan senantiasa menjadi berjuta alasan bagi para pengunjung dari domestik maupun mancanegara untuk meninggalkan kenangan indah di Pulau Dewata, Bali.

Kunjungan yang ke sekian kali ini, tertuju pada sebuah industri rumahan yang terletak di kawasan Celuk, kawasan industri kerajinan emas dan perak yang akan kita lalui jika perjalanan menuju Ubud. Lokasi ya20160915_164947_001ng asri ini berada di wilayah Sukawati, kabupaten Gianyar, Bali. Lokasinya sangat strategis di jalur pariwisata Batubulan – Sukawati – Ubud – Kintamani, perjalanan eksotis yang membuat kita selalu ingin melihat keadaan sekitar selama perjalanan. Kawasan Celuk dapat ditempuh dengan jarak 15 km Timur Laut kota Denpasar.

Sudah lebih dari 100 tahun, kawasan ini dikenal dengan pengerajin perak dan emas, yang sangat unik dan rapi. Sepanjang perjalanan di kawasan Celuk, kita akan melihat banyak sekali Art Shop yang menjual kerajinan perak Bali. Tujuan kami hari ini terfokus pada “Sunaka Jewelery” sebagai salah satu anggota RajaCraft.com sebuah komunitas marketing online yang fokus untuk penjualan hasil karya seni perhiasan perak melalui online. Sunaka Jewelery ini juga bekerja sama dengan Indo.com, PaketRupiah.com, Museum Nasional, FedEx. Menurut nara sumber yang saya ajak diskusi, bahwa bisnis turun temurun  yang ada di Celuk saat ini tengah mengalami penurunan untuk belanja langsung dari ruang display mereka.

Sunaka Jewelery adalah salah satu anggota PKBL dari PT. Telkom Indonesia, Witel Bali Selatan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Negara BUMN No. 4 tahun 2007, yakni 2% laba perusahaan harus disisihkan untuk PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Tampaknya, ketentuan 2% laba ini juga menjadi batasan umum di tataran praktis bagi perusahaan  yang mengimplementasikan program CSR, untuk dapat digunakan dalam mengembangkan usaha kecil menengah yang berada di kawasan operasionalnya. 

Krisis ekonomi dunia juga memberikan pengaruh terhadap pem
asaran produk mereka. Sekitar 60% pengusaha kerajinan perak yang ada di kawasan Celuk saat ini tengah semangat untuk belajar memenuhi permintaan pasar melalui online. Diantara banyak himpunan pengusaha perak di Bali yang sudah bergabung antara lain :

Ana Silver, Artha, Bali Permai, Semara Dharma, Dewi Souvenir, Eddy Santana, Komang Adi, Koming Ayu, Made Rudita, Mangku Silver, Wayan Wirata dan masih banyak lagi. Selain ruang display yang mereka miliki, m
ereak juga bersedia untuk menerima pesanan, atau “made by order”.

Pasar internasional yang sudah di jajaki dalam 2 dekade terakhir adalah : Thailand, India, United Kingdom, Saudi Arabia, Amerika Latin, dan Eropa. Melihat ceruk pasar perhiasan di luar negeri yang sangat menggiurkan, bisnis mereka berkembang bukan tanpa kendala. Harga yang di pasang untuk produk kualitas export berkisar RP 100.000 sampai dengan jutaan rupiah, bergantung desain dan tambahan batu perhiasan pada hasil karya tersebut.

Kualitas sumber daya manusia yang tak hanya mampu membuat desain produk unggulan, ketersediaan bahan  baku dan strategi pemasaran, namun kemampu-mapanan SDM yang mereka gunakan dalam mengaplikasikan penggunaan teknologi komunikasi dan informatika yang masih sangat terbatas.

Dalam wawancara tersebut, para pengusaha ini mengakui bahwa mereka sangat membutuhkan masukan informasi akan desain dan penggunakan teknologi internet untuk bisa menembus pasar lebih banyak lagi.

20160915_172348_001

Salah satu cuplikan wawancara ter sebut bisa di lihat di lampiran di bawah ini.

Semoga suatu hari Telkom University dapat melakukan pembinaan atau workshop secara reguler ke komunitas Kampung Digital ini, agar produk Indonesia lebih dikenal lagi di manca negara, demikian harapan kami dan yang juga di setujui oleh Bapak. I Gusti Bagus Ranuh, General Manager WiTel Bali Selatan. PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. Divisi Telkom Regional 5, Indonesia